Gulai Bukek Kuliner Khas Minangkabau dari Kabupaten Agam

Tuesday, 20 October 2020

Setiap daerah tentunya memiliki makanan khas masing-masing, keragaman kuliner tersebut juga yang mencerminkan keanekaragaman budaya di Indonesia. Seperti di provinsi Sumatera Barat contohnya, daerah Payakumbuh memiliki kuliner khas berupa karupuak sinjai, galamai, pangek cubadak dan juga batiah yang merupakan ikon kuliner daerah tersebut, daerah Solok Selatan memiliki berbagai kuliner khas seperti limpiang pinyaram, palai baluik, dendeng pucuk ubi, dan lain sebagainya. Begitu pula di Kabupaten Agam, terdapat kuniler khas yang masyarakat setempat menyebutnya dengan gulai bukek.

Gulai Bukek Kuliner Khas Minangkabau dari Kabupaten Agam
Gulai Bukek (sumber: raun2nomaden.wordpress.com)

Gulai merupakan lauk berkuah santan dan berbumbu khusus yang biasanya dicampur dengan ikan, daging sapi, daging kambing, dan lain sebagainya. “Bukek” dalam bahasa daerah setempat berarti kental. Jadi, gulai bukek memiliki arti gulai yang sangat kental. Proses memasaknya pun sama seperti memasak gulai pada umumnya, namun yang membedakan adalah gulai bukek biasanya dihidangkan pada saat Hari Raya Kurban atau Idul Adha. Pada Hari Raya Kurban, daging sebagian hewan kurban biasanya dibagikan kepada masyarakat setempat dan sebagian lagi digunakan untuk memasak gulai bukek.

Bagi masyarakat setempat, Hari Raya Kurban merupakan hari yang dinanti karena memiliki tradisi yang sangat kuat. Rangkaian tradisi dimulai beberapa hari sebelum Hari Raya Kurban, yaitu dengan mendirikan tenda atau tempat memasak yang lokasinya tidak jauh dari masjid atau mushola. Ketika Hari Raya Kurban masyarakat saling bergotong royong, mulai dari menyembelih hewan kurban, membersihkan daging, membagikan kupon dan memasak gulai bukek.

Pertama-tama, daging yang sudah dipotong kecil-kecil kemudian dibersihkan. Setelah bersih masukan ke dalam wajan yang besar untuk dimasak, bahan lain yang diperlukan juga tidak terlalu banyak seperti santan, lengkuas, jahe, cabe rawit dan cabe merah, kunyit, tepung beras, bawang merah, bawang putih, gula aren, daun kunyit, daun salam, serai, dan daun jeruk purut.

Kemudian daging yang telah dicampur dengan bumbu di dalam wajan diungkap sampai dagingnya matang. Setelah itu, masukkan santan yang telah disediakan. Dan yang terakhir dengan memasukkan tepung beras yang dicampur dengan air dingin, lalu diaduk hingga mendidih. Voila! Gulai bukek sudah bisa bisa dicicipi.

Gulai Bukek Kuliner Khas Minangkabau dari Kabupaten Agam
Memasak Gulai Bukek (sumber: agammediacenter.blogspot.com)

Biasanya yang memasak gulai bukek adalah kaum laki-laki, sementara para kaum wanita sibuk memotong daging kurban untuk dibagikan. Saat gulai bukek hampir matang, anak-anak sibuk mencari bambu yang diruncingkan dan mulai berlomba satu sama lain menusukkan bambu tersebut kedalam wajan. Bagi yang mendapatkan daging maka masyarakat akan bersorak dan tetap saling menyemangati anak-anak lainnya untuk mendapatkan daging.

Setelah gulai bukek matang, panitia pun memberikan pengumuman lewat pengeras suara di masjid atau mushola agar masyarakat bersiap-siap untuk makan bersama di dalam masjid atau mushola. Undangan pun juga diberikan kepada Bapak camat dan jajarannya, pemuda setempat dan masyarakat luar untuk mencicipi masakan Gulai Bukek tersebut.

Gulai Bukek Kuliner Khas Minangkabau dari Kabupaten Agam
Acara makan bersama gulai bukek (sumber: agammediacenter.blogspot.com)

Uniknya acara makan bersama ini hanya dilakukan setahun sekali dan tidak diselenggarakan pada Hari Raya Idul Fitri. Pada Hari Raya Idul fitri, biasanya masyarakat memasak gulai bukek di rumah masing-masing. Terkadang sengaja memasak untuk menyambut keluarga yang datang dari rantau.

Secara kasat mata, gulai bukek terlihat hampir mirip dengan sate padang yang biasa kita temukan sehari-hari, namun bentuk penyajiannya sangat berbeda. Gulai Bukek merupakan makanan khas dari daerah IV Koto Palembayan, Kabupaten Agam dengan tradisi yang tetap lestari setiap tahunnya. Bagi Anda yang ingin merasakan atau mencicipi masakan khas IV Koto Palembayan ini, silahkan mengatur waktu untuk mengunjungi daerah tersebut saat Hari Raya Idul Adha.


Share this Article

/uploads/user/avatar/13/Ihsan_Mauliardi.jpg

Ihsan Mauliardi

Gue Ican, paling suka minum kopi yang engga boleh terlalu manis karena manisnya udah ada di kamu. Selalu suka merenung sambil melihat sunrise, bukan sunset ya nanti dikira anak indie


NEWSLETTER

Dapatkan inspirasi seputar travel, kuliner dan lain lain di BEBASAJA.