9 Tempat Bersejarah yang Dapat kamu Kunjungi di Kawasan Wisata Kota Tua

Jakarta | Saturday, 5 October 2019

 

Kawasan wisata Kota Tua, merupakan kawasan wisata yang ramah untuk dompet kamu. Selain itu, akses menuju kawasan ini pun sangat mudah, kamu dapat menggunakan KRL Commuter line atau dengan menggunakan bus Transjakarta untuk menuju ke sini.

9 Tempat Bersejarah yang Dapat kamu Kunjungi di Kawasan Wisata Kota Tua

Apabila berada di kawasan wisata Kota Tua, kamu seolah-olah merasakan hidup di Batavia karena bangunan-bangunan yang berada di wilayah ini sudah menjadi cagar budaya, sehingga bentuk dan pondasinya tidak boleh diubah sesuai dengan perda yang berlaku.

Selain jadi spot foto dengan background bangunan tua, ada beberapa museum yang juga bisa dikunjungi saat berada di Kota Tua. Setidaknya ada 9 tempat bersejarah yang dapat kamu kunjungi saat berwisata di kawasan ini

1. Museum Sejarah Jakarta

Bangunan ini dahulu merupakan balai kota Batavia yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara

Bangunan ini merupakan ikon dari Kota Tua di Jakarta, Museum Sejarah Jakarta pun lebih dikenal dengan museum Fatahilah. Museum ini sangat identik dengan Meriam Sijagur yang merupakan meriam peninggalan jaman penjajahan Belanda.

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia. Selain itu, di Museum ini juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

2. Museum Wayang

Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan setelah dibangun pertama kali pada tahun 1640 hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih dari 4.000 buah wayang.

Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia.

3. Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005.

Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia.

4. Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri pada awalnya merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. NHM dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor.

Koleksi museum terdiri dari berbagai macam koleksi yang terkait dengan aktivitas perbankan "tempo doeloe" dan perkembangannya, koleksi yang dimiliki mulai dari perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, dan lain-lain.

Koleksi perlengkapan operasional bank "tempo doeloe" yang unik, antara lain adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, safe deposit box maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi, dan saham. Di samping itu, ornamen bangunan, interior dan furniture museum ini masih asli seperti ketika didirikan.

5. Museum Seni Rupa dan Keramik

Gedung ini awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) pada tahun 1870. Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, gedung ini dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.

Pada tahun 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi dan pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Pada awalnya, nama yang digunakan untuk gedung ini adalah Balai Seni Rupa dan Keramik yang kemudian berubah menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Ada sekitar 500 karya seni berupa patung, grafis, sketsa dan batik tulis ada di Museum ini. Beberapa koleksi unggulan di museum tersebut seperti karya sang maestro Affandi 'Potret Diri'. Juga ada lukisan Raden Saleh 'Bupati Cianjur' dan karya Hendra Gunawan 'Pengantin Revolusi'.

6. Museum Bahari

Museum Bahari merupakan museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pada masa pendudukan Belanda bangunan ini merupakan gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada tahun 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

7. Menara Syahbandar

Menara Syahbandar (Uitkijk) dibangun sekitar tahun 1839 yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor "pabean" yakni mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.

Bertambahnya usia bangunan hingga saat ini kurang lebih 180 tahun, membuat bangunan setinggi 12 meter dengan ukuran 4x8 meter ini, secara perlahan menjadi miring sehingga kerap disebut "Menara Miring". Menara ini juga disebut "Menara Goyang" karena menara ini terasa bergoyang ketika mobil melewati sekitarnya.

Sebagai bekas benteng, di lantai bawah masih terdapat ruang bawah tanah untuk perlindungan dan pintu terowongan bisa tembus hingga Museum Sejarah Jakarta bahkan kemungkinan hingga Masjid Istiqlal karena dulu pernah ada Benteng Frederik Hendrik. Saat ini pintu menuju terowongan sudah ditutup, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

8. Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Kalapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Pajajaran. Kemudian pada masa masuknya Islam dan para penjajah Eropa, Kalapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun.

Pada saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi kawasan wisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Letaknya tidak jauh dari Museum Bahari dan Menara Syahbandar. Di sebelah selatan pelabuhan ini terdapat pula Galangan Kapal VOC dan gedung-gedung VOC yang telah direnovasi.

9. Jembatan Kota Intan

Jembatan Kota Intan merupakan jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1628 oleh pemerintah VOC. Pada mulanya jembatan ini disebut Engelse Burg atau "Jembatan Inggris" yang dibangun pada tahun 1628.

Jembatan Kota Intan ini merupakan jembatan gantung, seperti kebanyakan jembatan-jembatan besar lain yang juga digantung di negeri Belanda. Dari atas jembatan ini kita dapat melihat kantor pabean, ke arah Utara. Jembatan ini masih ada sampai sekarang meski kayu hutannya sudah diganti dengan baja. Pada abad ke17 kapal-kapal masih dapat berlayar lebih jauh ke arah hulu Sungai Ciliwung dengan cara mengangkat tengah-tengah jembatan itu ke atas.


Share this Article